Antara Kampret dan Manusia

(Disalin rekat dari Facebook Post 26 Februari 2016.)

Pernah mendengar kata makian "kampret"?
Tentu pernah.

Tahu artinya?
Saya sendiri tidak tahu sampai setua ini.

"Kampret" itu "kelelawar", Teman-teman.

Iya, kelelawar kecil pemakan buah yang sering beterbangan di senja hari itu. Entah bagaimana asal muasalnya sampai kelelawar lucu ini dijadikan ungkapan makian.

*

Kadang saya bingung, mengapa manusia selalu memandang hina ciptaan-Nya yang lain? Seliar-liarnya dan sebuas-buasnya binatang, tidak ada yang sekejam manusia.

Tidak ada binatang yang tega membunuh anaknya sendiri.

Tidak ada binatang yang sampai hati membuang bayinya sendiri (baru lahir, pula!).

Tidak ada binatang yang menghancurkan tempat tinggalnya sendiri.

Dan tidak ada binatang yang gemar menyiksa binatang lain.

Mereka membunuh karena lapar, bukan demi kesenangan pribadi. Dan sedapat mungkin, mereka membunuh mangsanya dalam waktu sesingkat-singkatnya, agar buruannya tidak perlu menderita lama-lama.

*

Nah, bagi yang masih suka mengumpat dengan membinatangkan sesamanya manusia, tolong dipikir kembali. Anda itu berniat merendahkan atau malah menyanjung?

Tak usahlah menyamakan manusia (entah dia koruptor, penjahat, fedofil, pemfitnah, dsb.) dengan babi, anjing, monyet, atau kampret imut yang sedang tenang bobok siang ini.

Pantas?
Jelas tidak!

Komentar

Postingan Populer