Feminisme vs. Seksisme
(Disalin rekat dari Facebook Post 24 April 2016.)
Feminisme.
Sebagian orang akan mengangguk-angguk mendukung begitu mendengar istilah ini disebut. Sebagian yang lain........ mengernyitkan dahi dan melempar tampang sinis.
Ada yang bilang, feminisme itu wajib diperjuangkan, karena hingga saat ini, masih banyak terjadi penindasan terhadap perempuan. Dalam berbagai budaya di seluruh muka bumi, masih ada saja masyarakat kolot yang mengekang hak wanita untuk menyuarakan pendapat, memilih, menentukan nasibnya sendiri, berkarier, dan berpolitik. Kaum hawa masih sering menjadi korban kekerasan, pelecehan, pemaksaan kehendak oleh pihak lain (misalnya kawin paksa dan pernikahan di bawah umur), dsb. Kaum feminis menuntut perubahan agar keadilan ditegakkan bagi kaum wanita di seluruh dunia.
Namun ada juga yang protes, mengatakan bahwa feminisme itu paham yang mengada-ada. Kenapa? Karena dalam pendidikan agama dan moralitas, sedari kecil kita sudah diajarkan untuk menghormati kaum wanita. Kita lahir dari ibu, yang seorang wanita. Kita mengutamakan wanita sebagai kaum yang harus lebih diprioritaskan dalam etika bermasyarakat (semboyan 'ladies first' itu bukan di bibir saja). Dalam dunia kerja, wanita mendapatkan jumlah cuti lebih banyak dari pria. Jadi, tidak tepat juga bila wanita mengatakan mereka tidak diperlakukan dengan adil.
Kedua kubu ini acap kali bersitegang leher dengan sengit. Lupa bahwa untuk hal sepelik ini, tidak bisa dipukul rata. Konteks budaya dan adat bermasyarakat ikut menentukan hingga sejauh mana feminisme berlaku dalam kasus per kasus. Feminisme di pedalaman India itu bisa amat jauh berbeda dengan feminisme di jantung kota Paris, baik dalam hal intensitas, cakupan, maupun kerumitannya.
Saya sendiri, yang notabene awam dalam hal ini, cenderung memilih untuk mengamati dari jauh. Namun baru-baru ini saya terpikat oleh pendapat Maisie Williams (iya, si Arya Stark dalam serial Game of Thrones itu). Maisie mengajukan pemikiran yang lateral (cara berpikir di luar kotak, melampaui pandangan tradisional) dan mengemukakan bahwa, kemungkinan, yang keliru di sini adalah ISTILAHNYA.
Jika saya boleh membahasakan kembali opini Arya... eh, Maisie... FEMINISME ITU ISTILAH SEMU. Tidak ada yang namanya feminisme, pada hakekatnya. Bukankah Tuhan menciptakan perempuan dari tulang rusuk laki-laki? Itu artinya SETARA! Jadi, kodrat perempuan dari awal penciptaan memang sejajar dengan pria. Karena Tuhan tidak mungkin salah comot.
Lho, lalu, dari mana timbulnya segala keruwetan ini sampai kaum perempuan harus berjuang setengah mati selama ratusan hingga ribuan tahun untuk memperoleh kembali pengakuan bahwa diri mereka setara dengan pria?
Ya gara-gara dampak sampingan peradaban manusia, terutama dalam budaya masyarakat yang patriarkat (psstt... sebagian besar bangsa di dunia ini memang menjunjung patriarki, bukan?). Sistem patriarkat itu, baik disadari atau tidak, mencetak stereotipe-stereotipe tertentu dalam masyarakat. Laki-laki harus begini, perempuan harus begitu. Jika tidak begini atau begitu, berarti menyalahi kodrat. Lho?!
Balik lagi ke penjelasan di atas, TUHAN menentukan kodrat pria dan wanita itu setara! Lalu, dari mana manusia menentukan standar kodrat yang dilabelkan pada masing-masing orang ini?
Dari PEMBAGIAN PERAN!
Pembagian peran ini (misalnya pria bekerja mencari nafkah, wanita mengurus anak di rumah) terbentuk karena perkembangan budaya dalam laju peradaban manusia. Namun, jangan lupa, BUDAYA ITU DINAMIS! Berkembang seiring tuntutan perubahan zaman. Dan jika zaman menuntut budaya untuk berubah, pembagian peran pun bisa ikut berubah.
Masalahnya, ada saja orang-orang yang tidak mampu menerima pergeseran budaya ini, kemudian melabeli si A, si B sebagai 'menyalahi kodrat', 'menyimpang', 'abnormal', 'lebay', dsb. Mereka membanggakan diri sebagai anti-feminis. Padahal bukan. Mereka itu SEXIST!
Sexisme adalah sikap, perilaku, dan kondisi diskriminatif yang menentukan stereotipe peran sosial berdasarkan jenis kelamin seseorang (baik pria maupun wanita).
Wanita hanya boleh macak, manak, masak dan tinggal di rumah? Surga nunut, neraka katut? Itu pandangan sexist!
Pria tidak boleh pintar masak, merangkai bunga, atau merias pengantin? Jika berprofesi sebagai chef, florist, atau make-up artist, diduga kuat dia banci? Itu pandangan sexist!
Dan konyolnya lagi, hujatan-hujatan sexist ini tak jarang dilontarkan oleh sesama kaum. Berapa banyak wanita karier yang dicibir oleh ibu-ibu rumah tangga karena dianggap 'menyalahi kodrat'? Berapa banyak ahli tata rias laki-laki yang ditertawakan bapak-bapak pegawai kantoran karena dipandang 'banci' lantaran profesinya?
People, please. Ini sudah dekade kedua dari abad ke-21. Cepat atau lambat, sexisme ini akan tergerus arus perkembangan zaman. Jika masih ada yang berpandangan sexist, lekas-lekas koreksi kacamata, gih. Belajarlah untuk menerima laki-laki dan perempuan sebagaimana kodrat sejati mereka: SETARA di hadapan Tuhan -- sehingga, semestinya juga setara di hadapan manusia.
Feminisme.
Sebagian orang akan mengangguk-angguk mendukung begitu mendengar istilah ini disebut. Sebagian yang lain........ mengernyitkan dahi dan melempar tampang sinis.
Ada yang bilang, feminisme itu wajib diperjuangkan, karena hingga saat ini, masih banyak terjadi penindasan terhadap perempuan. Dalam berbagai budaya di seluruh muka bumi, masih ada saja masyarakat kolot yang mengekang hak wanita untuk menyuarakan pendapat, memilih, menentukan nasibnya sendiri, berkarier, dan berpolitik. Kaum hawa masih sering menjadi korban kekerasan, pelecehan, pemaksaan kehendak oleh pihak lain (misalnya kawin paksa dan pernikahan di bawah umur), dsb. Kaum feminis menuntut perubahan agar keadilan ditegakkan bagi kaum wanita di seluruh dunia.
Namun ada juga yang protes, mengatakan bahwa feminisme itu paham yang mengada-ada. Kenapa? Karena dalam pendidikan agama dan moralitas, sedari kecil kita sudah diajarkan untuk menghormati kaum wanita. Kita lahir dari ibu, yang seorang wanita. Kita mengutamakan wanita sebagai kaum yang harus lebih diprioritaskan dalam etika bermasyarakat (semboyan 'ladies first' itu bukan di bibir saja). Dalam dunia kerja, wanita mendapatkan jumlah cuti lebih banyak dari pria. Jadi, tidak tepat juga bila wanita mengatakan mereka tidak diperlakukan dengan adil.
Kedua kubu ini acap kali bersitegang leher dengan sengit. Lupa bahwa untuk hal sepelik ini, tidak bisa dipukul rata. Konteks budaya dan adat bermasyarakat ikut menentukan hingga sejauh mana feminisme berlaku dalam kasus per kasus. Feminisme di pedalaman India itu bisa amat jauh berbeda dengan feminisme di jantung kota Paris, baik dalam hal intensitas, cakupan, maupun kerumitannya.
Saya sendiri, yang notabene awam dalam hal ini, cenderung memilih untuk mengamati dari jauh. Namun baru-baru ini saya terpikat oleh pendapat Maisie Williams (iya, si Arya Stark dalam serial Game of Thrones itu). Maisie mengajukan pemikiran yang lateral (cara berpikir di luar kotak, melampaui pandangan tradisional) dan mengemukakan bahwa, kemungkinan, yang keliru di sini adalah ISTILAHNYA.
Jika saya boleh membahasakan kembali opini Arya... eh, Maisie... FEMINISME ITU ISTILAH SEMU. Tidak ada yang namanya feminisme, pada hakekatnya. Bukankah Tuhan menciptakan perempuan dari tulang rusuk laki-laki? Itu artinya SETARA! Jadi, kodrat perempuan dari awal penciptaan memang sejajar dengan pria. Karena Tuhan tidak mungkin salah comot.
Lho, lalu, dari mana timbulnya segala keruwetan ini sampai kaum perempuan harus berjuang setengah mati selama ratusan hingga ribuan tahun untuk memperoleh kembali pengakuan bahwa diri mereka setara dengan pria?
Ya gara-gara dampak sampingan peradaban manusia, terutama dalam budaya masyarakat yang patriarkat (psstt... sebagian besar bangsa di dunia ini memang menjunjung patriarki, bukan?). Sistem patriarkat itu, baik disadari atau tidak, mencetak stereotipe-stereotipe tertentu dalam masyarakat. Laki-laki harus begini, perempuan harus begitu. Jika tidak begini atau begitu, berarti menyalahi kodrat. Lho?!
Balik lagi ke penjelasan di atas, TUHAN menentukan kodrat pria dan wanita itu setara! Lalu, dari mana manusia menentukan standar kodrat yang dilabelkan pada masing-masing orang ini?
Dari PEMBAGIAN PERAN!
Pembagian peran ini (misalnya pria bekerja mencari nafkah, wanita mengurus anak di rumah) terbentuk karena perkembangan budaya dalam laju peradaban manusia. Namun, jangan lupa, BUDAYA ITU DINAMIS! Berkembang seiring tuntutan perubahan zaman. Dan jika zaman menuntut budaya untuk berubah, pembagian peran pun bisa ikut berubah.
Masalahnya, ada saja orang-orang yang tidak mampu menerima pergeseran budaya ini, kemudian melabeli si A, si B sebagai 'menyalahi kodrat', 'menyimpang', 'abnormal', 'lebay', dsb. Mereka membanggakan diri sebagai anti-feminis. Padahal bukan. Mereka itu SEXIST!
Sexisme adalah sikap, perilaku, dan kondisi diskriminatif yang menentukan stereotipe peran sosial berdasarkan jenis kelamin seseorang (baik pria maupun wanita).
Wanita hanya boleh macak, manak, masak dan tinggal di rumah? Surga nunut, neraka katut? Itu pandangan sexist!
Pria tidak boleh pintar masak, merangkai bunga, atau merias pengantin? Jika berprofesi sebagai chef, florist, atau make-up artist, diduga kuat dia banci? Itu pandangan sexist!
Dan konyolnya lagi, hujatan-hujatan sexist ini tak jarang dilontarkan oleh sesama kaum. Berapa banyak wanita karier yang dicibir oleh ibu-ibu rumah tangga karena dianggap 'menyalahi kodrat'? Berapa banyak ahli tata rias laki-laki yang ditertawakan bapak-bapak pegawai kantoran karena dipandang 'banci' lantaran profesinya?
People, please. Ini sudah dekade kedua dari abad ke-21. Cepat atau lambat, sexisme ini akan tergerus arus perkembangan zaman. Jika masih ada yang berpandangan sexist, lekas-lekas koreksi kacamata, gih. Belajarlah untuk menerima laki-laki dan perempuan sebagaimana kodrat sejati mereka: SETARA di hadapan Tuhan -- sehingga, semestinya juga setara di hadapan manusia.



Komentar
Posting Komentar